Pilkakon: Optimisme Membangun Pekon dan Pentingnya Adu Gagasan

Pilkakon: Optimisme Membangun Pekon dan Pentingnya Adu Gagasan

Citra hukum
Sabtu, 17 Oktober 2026


Oleh: Gustom
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kecamatan Pardasuka

Citrahukum.id, Perhelatan Pemilihan Kepala Pekon (Pilkakon) serentak di Kabupaten Pringsewu yang diikuti 59 pekon menjadi momentum penting dalam menentukan arah pembangunan dan masa depan masyarakat pekon. Pilkakon bukan sekadar proses demokrasi untuk memilih pemimpin, melainkan juga kesempatan bagi masyarakat untuk menentukan sosok yang dinilai mampu membawa perubahan dan kemajuan bagi pekon dalam beberapa tahun ke depan.

Karena itu, optimisme, kedewasaan berdemokrasi, dan kesadaran kolektif perlu menjadi landasan utama bagi seluruh elemen masyarakat dalam menyambut pesta demokrasi di tingkat pekon.

Optimisme terhadap perubahan dan kemajuan hanya dapat terwujud apabila proses demokrasi berjalan secara sehat dan bermartabat. Salah satu pilar penting demokrasi yang sehat adalah mengedepankan adu gagasan, program kerja, serta visi dan misi para calon kepala pekon, bukan terjebak dalam politik identitas, prasangka, maupun sikap saling mencurigai.

Di tengah antusiasme masyarakat, potensi gesekan antarpendukung perlu menjadi perhatian bersama. Kedekatan hubungan sosial dan kekerabatan di lingkungan pekon dapat membuat perbedaan pilihan politik terasa lebih sensitif. Oleh sebab itu, para calon, tim pemenangan, dan seluruh masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menjaga situasi tetap aman, damai, dan kondusif.

Penyebaran fitnah, ujaran kebencian, serta narasi provokatif, baik melalui media sosial maupun dalam interaksi langsung, perlu dihindari. Perbedaan pilihan politik hendaknya tidak merusak hubungan persaudaraan dan keharmonisan sosial yang selama ini telah terbangun di tengah masyarakat.

Menurut Gustom, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kecamatan Pardasuka, terdapat sejumlah hal penting yang perlu menjadi perhatian bersama agar pelaksanaan Pilkakon berjalan dengan baik dan menghasilkan kepemimpinan yang berkualitas.

Pertama, menahan diri ketika terjadi gesekan. Perbedaan pendapat dan dinamika politik merupakan bagian dari proses demokrasi. Namun, setiap persoalan hendaknya disikapi dengan kepala dingin, mengutamakan dialog, serta mengedepankan penyelesaian secara damai dan kekeluargaan.

Kedua, mengedepankan kampanye yang sehat dan edukatif. Kampanye semestinya menjadi ruang bagi para calon untuk menyampaikan gagasan dan solusi konkret atas berbagai persoalan pekon. Pembahasan dapat diarahkan pada pembangunan infrastruktur, penguatan ketahanan pangan, pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ketiga, memahami hakikat menang dan kalah. Setiap kontestasi demokrasi memiliki kemungkinan hasil yang berbeda bagi masing-masing calon. Karena itu, seluruh pihak perlu mempersiapkan diri untuk menerima hasil pemilihan secara dewasa sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Calon yang terpilih diharapkan mampu merangkul seluruh elemen masyarakat, sedangkan calon yang belum memperoleh kepercayaan mayoritas tetap memiliki ruang untuk berkontribusi bagi pembangunan pekon.

Pilkakon hendaknya menjadi pembuktian bahwa masyarakat pekon mampu menjalankan demokrasi secara bijaksana, santun, dan bertanggung jawab. Kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh proses pemilihan, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat menjaga persatuan di tengah perbedaan pilihan.

Dengan menjauhkan diri dari provokasi dan mengutamakan adu gagasan, harapan untuk mewujudkan pekon yang maju, mandiri, dan sejahtera dapat diperjuangkan bersama. Perbedaan pilihan tidak seharusnya menjadi penghalang bagi masyarakat untuk tetap bergotong royong dan membangun masa depan pekon.

Gustom juga mengajak seluruh masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam menyukseskan serta mengawal pelaksanaan Pilkakon dengan menjunjung tinggi semangat kebersamaan, persaudaraan, dan kegembiraan.

Pilkakon bukan tentang siapa yang harus menjadi lawan, melainkan tentang siapa yang menawarkan gagasan terbaik untuk masa depan pekon. Apa pun hasilnya, persatuan masyarakat harus tetap menjadi prioritas, karena pembangunan pekon merupakan tanggung jawab bersama.