Citrahukum.id, PRINGSEWU, 13 Oktober 2026 — Kekayaan budaya lokal dapat menjadi sumber belajar yang relevan untuk menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih kontekstual. Gagasan tersebut diperkenalkan melalui kegiatan “Diseminasi dan Implementasi Desain Pembelajaran Ethno-RME Berbasis Digital Berkonten Batik Lampung untuk Mendukung Pembelajaran Matematika Berkelanjutan” yang berlangsung di Aula UPT SMP Negeri 4 Pringsewu, Kabupaten Pringsewu, Selasa (13/10/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari diseminasi hasil penelitian disertasi Binti Anisaul Khasanah, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan (UAD), yang diikuti oleh guru matematika SMP dari sejumlah sekolah di Kabupaten Pringsewu. Penelitian ini dibimbing oleh Promotor Prof. Dr. Rully Charitas Indra Prahmana, S.Si., M.Pd. dan Co-Promotor Dr. Sofwan Adiputra, M.Pd., Kons.
Dalam kegiatan tersebut, Binti memperkenalkan desain pembelajaran Ethno-Realistic Mathematics Education (Ethno-RME) berbasis digital dengan memanfaatkan Batik Lampung sebagai konteks pembelajaran matematika. Motif dan keteraturan pola batik digunakan untuk mengajak siswa mengeksplorasi konsep matematika, khususnya pola bilangan, melalui aktivitas mengamati, menghitung, menemukan hubungan, membuat dugaan, hingga menyusun representasi matematika.
Pemanfaatan budaya lokal dalam pembelajaran diharapkan dapat membantu siswa memahami matematika melalui konteks yang dekat dengan kehidupan mereka. Sementara itu, dukungan teknologi digital memberikan peluang untuk menyajikan aktivitas pembelajaran secara lebih menarik dan interaktif.
Kegiatan diseminasi juga menjadi ruang dialog antara peneliti dan guru. Para peserta tidak hanya mengikuti pemaparan dan demonstrasi desain pembelajaran, tetapi turut memberikan tanggapan serta masukan mengenai kemungkinan penerapannya di sekolah.
Aspek yang dibahas antara lain karakteristik siswa, ketersediaan sarana digital, alokasi waktu, dan kebutuhan adaptasi bahan ajar. Kepala UPT SMP Negeri 4 Pringsewu, Antonius Widi Asmoro, S.Pd., M.Si., serta Ketua MGMP Matematika SMP Kabupaten Pringsewu, Ardiansyah, S.Pd., turut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut melalui sambutan dan arahan keduanya.
Menurut Binti, pemanfaatan Batik Lampung dalam pembelajaran tidak dimaksudkan sekadar sebagai ilustrasi, tetapi sebagai konteks yang dapat menghubungkan matematika dengan budaya dan kehidupan nyata.
Pendekatan ini juga diarahkan untuk mendukung tumbuhnya sustainability dalam pembelajaran matematika melalui penguatan apresiasi terhadap budaya lokal dan keterkaitannya dengan kehidupan siswa.
Melalui konteks Batik Lampung, siswa tidak hanya diajak menemukan keteraturan dan hubungan matematis yang terdapat pada motif, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mengenali serta menghargai warisan budaya daerah. Konteks budaya tersebut dapat menjadi jembatan untuk menghubungkan pembelajaran matematika dengan kehidupan nyata, lingkungan sosial, serta kesadaran terhadap keberlanjutan.
“Saya berharap kegiatan ini dapat menginspirasi guru untuk mengeksplorasi budaya lokal di lingkungan masing-masing sebagai sumber belajar matematika. Batik Lampung merupakan salah satu contoh bahwa kekayaan budaya dapat dihubungkan dengan konsep matematika sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna,” ungkap Binti.
Melalui kegiatan tersebut, hasil penelitian disertasi diharapkan tidak hanya menjadi kontribusi akademik, tetapi juga dapat memberikan alternatif inovasi bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran matematika yang memadukan budaya lokal, teknologi digital, dan orientasi keberlanjutan.
Red
