Citrahukum.com, BANDAR LAMPUNG — Ramadan tahun ini seharusnya menjadi momen penuh kebahagiaan bagi banyak keluarga. Di tengah masyarakat yang bersiap menyambut Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah yang diperkirakan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, suasana berbeda justru dirasakan oleh sebuah keluarga di Kota Bandar Lampung.
Keluarga Muslim masih diliputi duka setelah putra mereka, Abizar Fathan Athallah (6), meninggal dunia pada Selasa malam, 24 Februari 2026, di RSIA Puri Betik Hati.
Kepergian Abizar meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga sekaligus memunculkan pertanyaan terkait proses penanganan medis yang diterima anak tersebut.
Menurut keterangan ayah korban, Muslim, sebelumnya Abizar mengeluhkan sakit perut disertai muntah. Keluarga menduga terjadi keterlambatan dalam penanganan medis karena kendala koordinasi dengan dokter spesialis di rumah sakit tersebut.
Istilah Betik Hati dalam bahasa Lampung sendiri memiliki makna baik, tulus, atau niat yang mulia—sering dikaitkan dengan perilaku terpuji serta pelayanan yang penuh ketulusan. Namun dalam kasus ini, keluarga berharap ada penjelasan yang jelas terkait penanganan yang diberikan kepada anak mereka.
24 Hari Menjelang Lebaran yang Kelabu
Sekitar 24 hari sebelum Idul Fitri, Abizar harus menjalani perawatan akibat sakit yang dialaminya. Harapan keluarga agar sang anak dapat pulih dan kembali merayakan Lebaran bersama akhirnya pupus.
Menurut keluarga, proses penanganan medis diduga mengalami kendala, termasuk dalam hal koordinasi tenaga medis untuk tindakan operasi. Hal tersebut kemudian menjadi perhatian keluarga yang berharap adanya klarifikasi dari pihak terkait.
Kasus ini pun telah dilaporkan oleh pihak keluarga kepada Dinas Kesehatan Provinsi Lampung untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut.
Bagi Muslim, Idul Fitri tahun ini menjadi momen yang berbeda. Di saat banyak keluarga mempersiapkan hari kemenangan, ia justru harus menghadapi kenyataan bahwa baju Lebaran yang telah disiapkan untuk sang anak tidak lagi dapat dikenakan.
Bagi orang tua, kehilangan anak merupakan pengalaman yang sangat berat. Di rumah keluarga Abizar, sejumlah perlengkapan Lebaran yang telah disiapkan kini menjadi pengingat kenangan yang mendalam.
Baju baru yang seharusnya dikenakan saat hari raya kini hanya bisa dilipat dan disimpan, menjadi simbol kerinduan orang tua terhadap buah hati yang telah pergi.
Dalam situasi seperti ini, keluarga berusaha menguatkan diri dengan doa dan harapan agar Abizar mendapatkan tempat terbaik.
Peristiwa meninggalnya Abizar turut menjadi perhatian publik dan memunculkan diskusi mengenai kesiapsiagaan layanan kesehatan dalam menangani pasien, khususnya dalam kondisi darurat.
Saat ini, kasus tersebut tengah dalam proses penelaahan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Masyarakat berharap proses ini berjalan secara transparan, termasuk untuk memastikan apakah prosedur operasional standar (SOP) telah dijalankan sesuai ketentuan.
Momentum menjelang hari raya, ketika sebagian tenaga medis mengambil cuti, juga menjadi perhatian terkait kesiapan fasilitas kesehatan dalam memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat.
Menjelang Idul Fitri, ketika banyak keluarga merayakan kebersamaan, keluarga Abizar masih menanti kejelasan atas peristiwa yang menimpa anak mereka.
Di meja makan keluarga Muslim, sebuah kursi kini terasa kosong—menjadi pengingat akan kehadiran seorang anak yang dulu mengisi rumah dengan tawa.
Kursi itu seakan menyimpan kenangan: tawa kecil, kebiasaan sederhana, dan kebersamaan yang kini hanya tinggal ingatan.
Peristiwa ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak terkait, agar pelayanan kesehatan semakin baik dan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Penulis: A. Hanif Zikri
Sekretaris DPD PWRI Provinsi Lampung
