Opini: M. Arifin Joko Winahyu, S.H.
Praktisi Hukum & Advokat
Saat ditemui di Sekretariat YPBH Cakrayudha, DIY, Senin (1/12/2025), Praktisi Hukum dan Advokat M. Arifin Joko Winahyu, S.H. menegaskan bahwa Bantul membutuhkan gerakan baru untuk membangkitkan kesadaran masyarakat akar rumput agar lebih siap menghadapi bencana secara mandiri.
“Upaya kesiapsiagaan tidak bisa hanya mengandalkan instruksi pemerintah. Gerakan harus tumbuh dari komunitas paling bawah, dari pedukuhan itu sendiri,” tegas Arifin.
Arifin menilai edukasi kebencanaan harus menggunakan bahasa sederhana, contoh nyata, dan penjelasan yang relevan dengan kehidupan warga. Kesadaran akan tumbuh jika masyarakat memahami ancaman yang nyata dan manfaat langsung dari kesiapsiagaan.
Kompetisi Antar-Pedukuhan Menjadi Pemicu Gerakan Mandiri
Dalam pernyataannya, Arifin mendorong penguatan kompetisi antar-pedukuhan sebagai strategi efektif untuk membangkitkan semangat kolektif.
Ia menilai Lomba Kampung Tangguh Bencana Mandiri seharusnya menjadi ajang bergengsi yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Insentif seperti APAR, peralatan SAR ringan, pelatihan relawan, serta dukungan pemberdayaan ekonomi dapat mempercepat gerakan tanggap bencana mandiri.
“Ketika warga merasa memiliki gengsi dan kebanggaan kolektif, partisipasi akan tumbuh dengan sendirinya,” ujarnya.
Menggerakkan Tokoh Lokal sebagai Penggerak Utama
Arifin menekankan bahwa tokoh masyarakat adalah kunci penggerak di pedukuhan. Pendekatan berbasis komunitas jauh lebih efektif dibanding sosialisasi formal pemerintah.
Tokoh agama, pemuda, kelompok ibu-ibu, dan relawan lokal harus menjadi tulang punggung Forum Siaga Bencana.
Regulasi dan Transparansi untuk Menguatkan Gerakan
Sebagai Praktisi Hukum, Arifin menyoroti pentingnya Peraturan Kalurahan tentang Kesiapsiagaan Bencana yang sederhana, jelas, dan tidak tumpang tindih. Aturan ini penting untuk mengamankan:
kejelasan struktur relawan,
dasar hukum penggunaan anggaran,
dan akuntabilitas publik.
“Masyarakat akan semakin berani bergerak jika aturan dan anggarannya jelas, transparan, dan tidak tumpang tindih,” ungkapnya.
Menurut Arifin, narasi kebencanaan tidak boleh kaku dan teknis. Keselamatan keluarga, perlindungan anak, dan masa depan komunitas adalah pesan paling kuat.
Selain itu, gerakan tanggap bencana bisa dikembangkan menjadi peluang ekonomi lokal, seperti:
UMKM mitigasi,
desa wisata edukasi bencana,
usaha produksi alat evakuasi sederhana,
pelatihan ekonomi resiliensi.
Arifin meyakini Bantul dapat menjadi contoh nasional dalam kemandirian tanggap bencana jika gerakan ini dimulai dari pedukuhan lalu diperkuat dengan dukungan regulasi dan kompetisi sehat.
“Kesiapsiagaan adalah tanggung jawab kolektif. Gerakan harus lahir dari masyarakat, diperkuat pemerintah, dan dipandu oleh kesadaran bersama untuk melindungi nyawa dan masa depan Bantul,” tutupnya.
